Puisi

Februari 22, 2008

SEJAK KAPAN

Sejak kapan cinta dinikmati
Sebagai cinta
Sejak kapan cinta dinikmati
Sebagai Luka
Sejak kapan cinta dinikmati
Sebagai Duka
Sejak kapan cinta dinikmati
Sebagai Kasih
Sejak kapan cinta dinikmati
Sebagai Letih
Sejak kapan cinta dinikmati
Sebagai Sedih
Sejak kapan cinta dinikmati
Sebagai Sayang
Sejak kapan cinta dinikmati
Sebagai Hilang
Sejak kapan cinta dinikmati
Sebagai Lengang
Sejak, Sejak, Sejak, Sejak Kesunyian
Meresap
Berubah menjadi
Kebetulan

Jika Cinta adalah cahaya
Maka cahaya itu adalah API
Jika Rindu adalah cahaya
Maka cahaya itu dalah API
Jika Cemburu itu adalah cahaya
Maka cahaya itu adalah API
Jika Kehilangan itu Adalah cahaya
Maka Cahaya itu adalah API

Jika cahaya itu adalah
Cinta
Rindu
Cemburu
Kehilangan
Maka Apilah
Yang Membakar
Kesemuanya
Kesemuanya!!!

BUAT BATU BUTA

Cinta buta,dibuat menjadi membatu
Batu-batu Buta,karna cinta yang dibuat-buat
Cinta buta,dibuat menjadi batu
Mari buatkan cinta tak mengenali batu
Hanya batu untuk Prasasti kenangan
Mari,Bantu aku hancurkan batu buat cinta
Biar,tak bertuba membunuh kita
Sebab tuba tabu dibuat cinta
Maka cinta bukan batu

(Mari,buatkan cinta seperti yang kita mau)

DAMAI

Ternyata
Dalam Dingin Kutemukan damaimu
Dalam basah ku hampiri gelisahmu
Sungguh
Damaiku malam ini
Tak lepas dari bayangmu
Memang
Kuimpikan rumah diatas bukit
Dalam dingin pagi yang membiusku
Adakah
Rumah kita tercipta
Bersama Matahari terbit
Bersama Angin menyejuk bumi
Bersama Gunung terbias kuningan
Bersama Awan yang berteriak rancak
Bersama biru laut
Bersama biru langit
Bersama damai
Bersamamu………..

Bara (Raff)


Keikhlasan

Februari 19, 2008

Keikhlasan

Maka ingatkah kamu akan suatu masa
ketika islam masih jaya. Lalu pernahkah
engkau bertanya mengapa islam begitu
mudah diterima dan menjadi penuntun
hidup umat manusia…

Maka simaklah sebuah kisah yang
menyebabkan kita sadar akan apa yang
telah hilang dari diri kita agar kita
kembali…

Abu Bakar suatu ketika bertanya kepada
Aisyah, ” Ya Aisyah katakan padaku apa
yang telah Rasulullah perbuat yang belum
aku perbuat.” Maka Aisyah berkata, “
Rasulullah sewaktu masih hidup sering
memberi makan pada seorang perempuan tua
yahudi yang buta…

Maka beranjaklah Abu Bakar untuk menemui
perempuan tua itu…

Maka terkejutlah Abu Bakar karena
mengetahui bahwa perempuan tua itu
adalah orang yang sering menghina dan
mencaci maki Nabi SAW.

Ketika ia memberi makan Perempuan itu,
si perempuan itu terkejut. “Kenapa
makanan ini tidak seenak makanan pada
hari-hari yang lalu” katanya…

Maka berkatalah Abu Bakar dengan lirih,
“Orang yang biasa memberimu makan telah
meninggal dunia”

Lalu bertanyalah perempuan itu
” Siapakah dia yang biasa memberi makan
padaku itu ? “

Abu Bakar pun berkata ” Dialah Nabi
Muhammad “

Maka dapatkah engkau menemui kunci
kebahagian dan kunci akhirat digabungkan
, maka ambillah dia kunci yang bernama
ikhlas itu…

Memang sulit mendapatkan kunci ini,
karena engkau mungkin tidak akan
mendapatkan balasan apa pun di dunia
ini, bahkan mungkin seperti rasul,
kebaikan dan keikhlasan kita terkadang
tidak dianggap orang, malah di salah
artikan bahkan kita dianggap orang yang
buruk.

Tapi dunia hanyalah dunia, dan adalah
akhirat bagi orang yang berilmu…

Maka padukan kunci keikhlasan dengan
kunci kesabaran, maka engkau akan
menemui kebahagian dalam setiap langkahmu…

Temanku bernama miftah pernah berkata,
orang yang ikhlas adalah orang yang
cenderung tidak mencari popularitas,
dimana ia tidak berbuat ini dan itu agar
ia menjadi orang yang terlihat…


Tips Menulis Surat Lamaran Kerja

Februari 13, 2008

Banyak perusahaan yang memandang surat lamaran atau cover letter sebagai bagian terpenting dari seluruh dokumen lamaran Anda. Karena itu penting sekali bagi Anda untuk menuliskan surat lamaran yang baik. Berbagai tips di bawah akan membantu Anda.

1. Kesan Individual
Jika Anda berencana mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan pastikan Anda menuliskan nama perusahaan yang benar pada surat lamaran Anda. Selain itu perlu juga Anda membuat surat lamaran yang ditujukan pada seseorang. Gunakan nama dan jabatan yang spesifik jika mungkin. Secara khusus, untuk surat yang ditujukan pada seorang perempuan, jika Anda tidak mengetahui status pernikahannya, gunakan awalan Ms. Contoh: Ms. Suryanegara.

Ingat: Di Internet dan di MS Word tersedia banyak template atau contoh surat lamaran. Jangan hanya mengkopi contoh-contoh tersebut. Ubahlah sesuai dengan keperluan Anda.

2. Singkat dan Padat
Jangan bertele-tele. Tuliskan surat Anda dengan singkat dan padat. Gunakan bahasa yang mudah. Gunakan kata-kata yang biasa digunakan. Tidak perlu berusaha untuk mengesankan pembaca Anda dengan menggunakan kata-kata yang sulit.

Ingat: Jangan menulis surat lamaran Anda lebih dari satu halaman. Perusahaan mungkin menerima belasan bahkan ratusan surat lamaran. Surat lamaran yang terlalu panjang tidak efektif.

3. Rapi dan Bersih
Sedapat-dapatnya gunakan program komputer untuk menuliskan surat lamaran Anda. Dengan begitu Anda dapat menuliskan surat lamaran yang rapi dan bersih sehingga mudah dibaca.

Ingat: Hindari menulis surat lamaran dengan tulisan tangan. Hindari menggunakan tip-ex atau sejenisnya dalam surat lamaran Anda.

4. Isi
Dalam surat lamaran Anda, ada beberapa hal yang perlu dituliskan:

Pembukaan: Sebutkan dimana Anda mendapatkan informasi tentang lowongan kerja tersebut.Contohnya, Anda bisa menyebutkan bahwa Anda mengetahui lowongan kerja tersebut dari iklan di surat kabar, iklan di Internet, atau dari seorang teman Anda.
Pekerjaan Anda sekarang: Ceritakan secara singkat posisi dan bidang pekerjaan Anda saat ini. Anda juga perlu menceritakan secara singkat pencapaian utama Anda dalam pekerjaan tersebut. Agar memberikan gambaran yang lebih baik, berikan informasi secara kuantitatif. Misalnya, “Saya membawahi lima orang junior manager”. Yang perlu Anda perhatikan di sini, tuliskan hanya hal-hal yang relevan dengan pekerjaan yang Anda lamar. Baca dengan baik persyaratan yang dibutuhkan dalam iklan lowongan pekerjaan tersebut. Jika pekerjaan yang Anda lamar adalah di bidang marketing research, Anda mungkin tidak perlu menceritakan pencapaian Anda di bidang logistik.

Pendidikan: Jika latar belakang pendidikan perlu diinformasikan, tuliskan secara singkat pendidikan tertinggi Anda. Jika Anda pernah mendapatkan pendidikan di sekolah yang cukup dikenal, ada baiknya Anda menuliskannya di surat lamaran.
Penutup: Dalam penutup ingatkan pembacanya bahwa Anda mempunyai keinginan kuat untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Ada baiknya Anda menyatakan kapan saat terbaik Anda bisa dihubungi untuk proses selanjutnya. Dan jangan lupa ucapkan “Terima kasih”.

5. Proof Read
Proof read artinya membaca kembali seluruh tulisan Anda dan memastikan semuanya sudah benar. Pastikan tidak ada kesalahan pengejaan, tidak ada kata-kata yang diulang atau repetitif, dan tata bahasa (grammar) yang digunakan sesuai. Dalam program MS Word Anda bisa menggunakan spell dan grammar checker. Gunakanlah! Menurut sebuah website,”Suatu kesalahan dalam ejaan saja bisa menyebabkan Anda kehilangan kesempatan yang penting untuk memperoleh pekerjaan”.


Mengenali Mukmin Sejati

Februari 8, 2008

Seorang mukmin sejati dapat dikenal melalui sifat yang terdapat pada dirinya. Tentang hal ini Yahya bin Muadz r.a telah merumuskan tiga ratus tiga puluh sifat yang perlu ada pada mukmin sejati. Diantaranya ialah:

  • Hendaklah banyak malu.
  • Kurang gangguan
  • Banyak melakukan kebaikan
  • Tidak melakukan kejahatan
  • Jujur
  • Kurang bercakap
  • Senantiasa bekerja
  • Kurang melakukan dosa
  • Tidak berminat mendengar rahasia orang lain
  • Suka kepada kerja-kerja kebajikan
  • Menghidupkan silaturrahim
  • Tenang
  • Sabar
  • Sentiasa bersyukur
  • Sangat redha kepada Allah walaupun rezekinya selalu disempitkan
  • Kasih pada para sahabat
  • Sopan santun
  • Menjaga kehormatan diri
  • Belas kasihan
  • Tidak suka mengutuk orang lain
  • Tidak suka memaki hamun
  • Tidak suka mencela
  • Tidak suka membuat fitnah
  • Tidak mengumpat
  • Apa-apa yang dilakukan tidak tergesa-gesa
  • Tidak mempunyai sifat dengki dan khianat
  • Tidak ada sifat pendendam
  • Tidak sombong congkak
  • Tidak suka bangga diri
  • Tidak keterlaluan pada hal-hal dunia
  • Tidak suka berangan-angan
  • Kurang tidur dan banyak beribadat
  • Tidak mengharapkan pujian daripada orang lain
  • Tidak munafik
  • Tidak kedekut atau kikir
  • Tidak suka mencari kesalahan orang lain
  • Suka atau cinta kerana Allah dan benci kerana Allah
  • Rela akan sesuatu perkara kerana Allah
  • Selalu berbekal dengan taqwa
  • Tujuan hidup hanya satu, yaitu menuju akhirat
  • Suka berzikir
  • Kekasihnya hanya Allah
  • Setiap usaha yang dilakukan adalah untuk akhirat.

10 Sikap”Terlalu yang harus dihindari dalam perhubungan

Februari 1, 2008
Sikap ‘terlalu’ ini sangat berbahaya dalam perhubungan sekiranya tidak dikawal. Ia mungkin dapat menjejaskan hubungan yang harmonis  atau menjadi penyebab pertengkaran yang berulang pada sesebuah hubungan. Oleh itu lebih baik kita menyelidik diri sekiranya kita menghadapi gejala ‘terlalu’ dalam diri kita.

10 ‘terlalu’ yang membahayakan ini ialah:

1. Terlalu Manja

Sifat manja wanita sering dikaitkan sebagai suatu daya tarikan tersendiri. Banyak lelaki yang menyukai kemanjaan kekasihnya, kerana ia dapat membangkitkan sifat melindunginya.

Namun jangan kemanjaan tersebut berlebihan. Wanita yang terlalu manja seumpama anak kecil yang mengada-ngada. Paling teruk karenah wanita yang terlalu manja kelihatan buruk di depan umum. Pasti akan memalukan teman lelakinya.

2. Terlalu Tertutup

Demikian pula dengan sikap terlalu tertutup, hal ini akan menghambat komunikasi. Padahal komunikasi sangat penting bagi menjaga keharmonisan setiap hubungan. Baik lelaki mahupun wanita  ingin mengetahui pengalaman, perasaan dan keinginan pasangannya.

3. Terlalu Terbuka

Orang yang bersikap umumnya menyenangkan dan mesra. Namun sikap yang terlalu terbuka juga kadangkala  menjadi tidak menyenangkan.  Orang yang terlalu terbuka biasanya mengungkap isi hatinya tanpa melihat situasi dan keadaan, sulit menyimpan rahsia dan yang lebih buruk adalah kebiasaan bicara dulu , berfikir kemudian serta melampau had sempadan.

4. Terlalu Cerewet

Ada sebahagian wanita yang kurang menyedari, betapa buruknya wanita yang terlalu cerewet. Jika seorang ibu cerewet kepada anaknya yang masih kecil mungkin masih dapat dimaafkan. Namun cerewet kepada kekasih amat menyesakkan, meskipun dengan alasan “Kerana aku sayang padamu”.

5. Terlalu Sensitif

Wanita yang terlalu perasa atau sensitif akan membuat kekasihnya merasa tidak bebas untuk mengungkapkan perasaanya, kerana takut melukai hatinya. Padahal dalam hubungan cinta yang sihat kedua belah pihak seharusnya  saling mengungkapkan perasaannya dengan bebas.
Kadangkala gurauan juga dapat mengguris perasaan wanita yang terlalu sensitif sehingga pasangannya tiada mood untuk berlawak jenaka bagi menceriakan suasana.

6. Terlalu Mengongkong

Lelaki memerlukan kebebasan atau ruang untuk melakukan aktiviti yang disukainya, untuk menekuni apa yang dipelajarinya, untuk bergaul dengan teman-temannya dan untuk menjadi dirinya sendiri.

Jika wanita terlalu mengongkong, mungkin untuk sementara pasangannya dapat  bertahan atau memahaminya, namun tidak untuk jangka panjang. Dia akhirnya akan bosan dan berontak sehingga boleh menjejaskan hubungan.

7. Terlalu Memperlekeh

Lelaki  tidak menyukai wanita yang tidak menghargainya, apalagi memperlekehkannya.  Wanita perlu bersikap lebih bijak untuk tidak membuat lelaki merasa direndahkan baik oleh sikap mahupun ucapan yang dihamburkan.
Bila kamu hendak memperbaiki kekasih kamu yang terlalu banyak kelemahannya, kamu perlulah mendorongnya untuk berubah sedikit demi sedikit dgn cara yang sewajarnya iaitu tidak memperlekehkannya.

8. Terlalu Memiliki

Tidak ada seorang pun yang betul-betul ingin dimiliki oleh orang lain. Tentu saja dia kekasih kamu, namun bukan milik peribadi kamu.

Jadi biarkan dia juga dimiliki oleh dirinya sendiri, oleh teman-temannya, oleh keluarganya dan oleh orang lain.

9. Terlalu Menyanjungi

Kebiasaan memuji dan saling menghargai memang perlu. Selain untuk merapatkan hubungan, ia juga penting untuk meningkatkan rasa percaya diri kekasih kamu.

Tetapi kalau kamu terlalu sering menyogoknya dengan pujian dan sanjungan, kamu tidak saja merosak erti sebenar pujian , tetapi juga  membuat si dia merasa bosan. Dia juga menganggap kamu tidak ikhlas.

10. Terlalu Menuntut

Meskipun lelaki perlu dipacu semangatnya, namun terlalu menuntut bukanlah cara yang baik. Lelaki juga ada had kesabarannya  dalam melayan karenah pasangannya yang terlalu menuntut itu dan ini. Lama-kelamaan dia akan jadi bosan dan tidak lagi mahu menurut kehendak pasangannya.


Cinta yang Hilang

Februari 1, 2008

Nina merenung bait-bait puisi yang baru selesai ditulisnya. Rasanya itulah puisi yang sesuai untuk mengambarkan hati dan dirinya saat ini. Ada duka yang meruntun dijiwanya namun Nina tidak berdaya untuk melenyapkannya.Bertentang mata ku tidak lagi merasakan cinta..
Berpaling muka bagaikan tiada apa..
Antara kita tiada lagi manis cinta..
Hilang bicara bila kita bersua..

Namun aku masih berharap..
Rasa cinta kita masih ada..
Meski pun kian pudar tawa mesra
Jua kian luput kenangan bahagia..

Kian jauh..
Hati kita kian menjauh..
Rindu juga semakin jauh..
Dan cinta.. entah adakah lagi sisanya.

Hilangkah bisa cinta kita..
Di telan masa.. di hanyut badai..
Lupa pada janji lama..
Dan yang tinggal hanya pura-pura..

Cinta yang hilang..
Di manakah jejaknya….

Percintaan antara Nina dan Mirhan sudah berusia 2 tahun. Kisah-kisah manis sudah lama reput dan lapuk hingga bagai tiada kesannya dihati mereka berdua. Nina kesal! Tiap kali bersua mereka bagai anjing dan kucing, ada saja yang menjadi pertengkaran. Hal-hal yang sekecil-kecilnya pun akan menjadi punca perselisihan faham yang menyebabkan masing-masing bermasam muka. Entahlah.. adakah kerana ego atau mereka memang tidak serasi bersama. Mungkin juga kerana usia yang masih muda, kurang matang serta tidak tahu apakah erti cinta yang sesungguhnya. Kata orang rajuk dan cemburu itu tanda sayang. Namun bagi Nina, rajuk dan cemburu hanya akan menyebabkan mereka berdua saling luka melukai. Hubungan Nina dan Mirhan bagai telur di hujung tanduk, bagai retak menanti belah. Nina menarik nafas berat. Kesal dengan apa yang terjadi.

Kadang kala selepas bergaduh dengan Mirhan, Nina kesal dengan kata-katanya sendiri. Kerana amarah dan tidak puas hati, Nina akan melepaskan kata-kata yang akhirnya melukai perasaan Mirhan. Memang ada rasa bersalah. Tapi untuk melafazkan maaf tidak sekali jika punca masalah itu adalah dari Mirhan!

Bukannya dia tak sayang pada Mirhan. Bukannya tak cinta. Tapi sikap Mirhan yang panas baran, acuh tak acuh serta selalu menuduh secara melulu kerap menghiris perasaannya. Lelaki kesayangannya itu juga seakan tidak memahami isi hatinya. Tidak! Dia bukannya tidak memahami isi hati Nina. Cuma dia tidak lagi teringin untuk menyelami kehalusan hati dan perasaan seorang gadis sepertinya. Nina kesal dengan sikap Mirhan yang tidak menghargai detik-detik manis mereka bersama. Adakalanya Mirhan bersikap dingin dan selalu pula melebih-lebihkan kawan berbanding kekasihnya. Di awal percintaan dulu semua sikap Mirhan itu tidak kelihatan. Semuanya baik belaka. Mirhan selalu ingin berada di sisinya. Mirhanlah yang paling manis, yang paling romantis dan paling penyabar lagi penyayang. Tapi itu dulu, saat Mirhan memikatnya dengan seribu satu macam cara agar cintanya dapat ditawan oleh Mirhan. Kisah indah dan romantis itu hanya berlanjutan selama setahun. Jika dulu andai rajuk, Mirhan akan memujuk. Andai marah, Mirhan akan mengalah. Tapi kini? Tiada lagi gurau senda. Tiada juga tawa gembira. Bila bertentang mata, sudah tiada debaran di dada. Semuanya hampar.. semuanya tawar!

Rindu? Nina memang merindukan saat-saat indah ketika Mirhan mula-mula dikenalinya. Seakan-akan lelaki itu tidak boleh hidup tanpanya. Saban siang dan malam. Ada saja panggilan telefon dari Mirhan. Kalau seminggu tak bersua. Rindu di hati begitu bergelora. Tapi kini? Dia tidak lagi merasa rindu pada Mirhan. Mereka bertemu pun kerana hanya satu kemestian. Mereka bertemu kerana mereka masih lagi bergelar kekasih dan sebagai sepasang kekasih mereka perlu bertemu sekurang-kurangnya sekali dalam seminggu. Tapi pertemuan biasanya hanya mendatangkan perbalahan. Adakalanya pertemuan hanya akan mengeruhkan hubungan mereka. Nina kesal. Dia tidak tahu mengapakah hubungan mereka tidak boleh pulih seperti dulu-dulu. Kenapa? Adakah hubungan mereka sudah mencapai tahap ‘expired date’? sudah basi? Kemanisannya sudah hilang rasa? Lagi-lagi Nina mengeluh.

“ Sepasang kekasih mesti cuba saling faham memahami. Selalu bertolak ansur dan paling penting hormat menghormati. Mesti ada sikap give and take.. willing to sharing” Kata Farhana kakak angkatnya. Farhana sudah berkahwin dan punya seorang cahaya mata. Ketika itu Nina tidak berkata apa-apa. Dia biarkan Farhana terus memberikan kaunseling percuma kepadanya.

“ Kita ni tak patut kalau asyik memberi saja tapi tidak menerima. Jadi masing-masing kena memberi kasih sayang dan perlu menerima kasih sayang.. kalau kita asyik menerima saja pun tak elok. Lama-lama dia akan bosan memberi sedangkan kita hanya tahu menerima tapi tak pernah terfikir untuk membalasnya. Kita orang perempuan ni suka sangat di manja, dihargai .. disayangi.. orang lelaki kadang-kadang tak faham tu. Tapi kita sendiri pun selalunya tak faham, yang orang lelaki ni memang tak memahami sikap semula jadi kita tu. Kita kenalah juga cuba memahami sikap semula jadi orang lelaki yang memang bengap sikit pasal hati dan perasaan orang perempuan. Sebelum kita salahkan orang lelaki kerana tak memahami diri kita, kita cerminkan juga diri kita sendiri. Kita telah cuba fahami mereka? Kita telah cuba menyesuaikan diri dengan sikap mereka? Atau kita terlalu beria-ia menyuruh mereka mengubah sikap supaya sesuai dengan kehendak kita?”

Semakin banyak yang Farhana cakap semakin bingung Nina mendengarnya. Muka Nina berkerut-kerut kerana tidak faham maksud dan apa yang ingin di sampaikan oleh Farhana. Farhana senyum, dia tahu Nina tidak dapat menerima mesej yang ingin disampaikannya.

“Takpe lah Nina, Kakak cuma nak cakap kat Nina. Nina bersabarlah dan terima Mirhan seadanya.. jangan harapkan Mirhan sebagai lelaki yang sempurna. Sebab Nina pun bukan gadis yang sempurna. Tiada orang yang sempurna dalam dunia ni.. masing-masing ada kelebihan dan kekurangan..kan?” Nina menganguk. Farhana memang selalu memberi nasihat setiap kali dia dilanda krisis dengan Mirhan. Tapi sudahnya bukan seperti yang di harapkan. Semua tunjuk ajar dan pendapat Farhana tidak berkesan terhadap hubungan cintanya yang pelbagai ragam masalahnya.

Bagi Nina, dia sudah cuba sedaya upaya untuk memahami sikap Mirhan. Tapi Mirhanlah yang tidak berusaha untuk memahami dirinya. Nina kerap terkilan dengan sikap Mirhan yang acuh tak acuh itu. Nina sudah penat dengan hubungan cintanya yang telah kehilangan seri. Nina sudah bosan merajuk dan memujuk diri sendiri. Nina sudah bosan untuk bertolak ansur dengan Mirhan atas sebab-sebab kecil tapi menyakitkan hati. Petang ini Nina akan berjumpa dengan Mirhan. Nina nekad! Putus hubungan mungkin lebih baik daripada meneruskan percintaan yang meletihkan ini!

“Sekarang kita nak ke mana?” Tanya Mirhan selepas menjelaskan kelewatannya. Dengan muka yang masam. Nina angkat bahu.

“Ke mana sajalah!” Balas Nina kemudian. Mirhan menarik nafas panjang. Dia tidak suka pada jawapan Nina itu. Apatah lagi jawapan itu bernada sinis. Muka Mirhan berubah keruh. Nina sempat menjeling muka Mirhan yang mula mencerut itu.

“Kalau takde mood nak keluar, baik tak payah Nina..” Kata Mirhan sambil merengus kecil. Api kemarahan Nina mula terpercik mendengar kata-kata Mirhan.

“Oh..? begitu..? maaflah kalau aku ni hanya menyusahkan kau!” Balas Nina dengan nada geram.

“Bukan macam tu maksud aku Nina.. tapi kau selalu macam ni. Kata nak keluar.. tapi bila keluar kau moody. Lepas tu tak tahu nak ke mana.. alih-alih kita bergaduh!” ucapan Mirhan yang terakhir itu agak keras. Hati Nina terguris. Api di hatinya bagai di siram minyak oleh Mirhan.

“Aku? Moody? Mirhan.. baik kau fikir elok-elok.. aku dah tercanggak-canggak menunggu kau kat sini lebih setengah jam… lepas tu kau suka-suka je cakap, kalau takde mood nak keluar baik tak payah keluar? Sebenarnya kau yang takde mood nak keluar kan.. sebab tu kau sengaja melengah-lengahkan masa. Biarkan aku macam si bodoh tunggu kau kat sini!” Perang telah bermula. Dada Nina berombak-ombak kencang menahan marah.

“ Oh! Semuanya pasal aku lambat sikit. Tadi kata tak apa! Kan aku dah cakap aku tak sengaja.. kau boleh tak jangan suka sangat merajuk! Melenting!” nada Mirhan tak kurang kerasnya.

“Oh! Aku ni suka merajuk? Suka melenting? O.k fine! Aku tak akan merajuk.. tak akan melenting.. tak akan marah-marah lagi! Mulai hari ini aku tak akan menyusahkan kau dan menganggu hidup kau lagi. Kita putus!” Ucap Nina hampir menjerit.

“Baik! Aku memang tahu kau dah lama nak putus dengan aku. Aku memang dah agak dah. Kau saja jadikan alasan kecil ni untuk putuskan hubungan! Mungkin kau dah jumpa lelaki lain yang lebih baik dari aku? Tak payah lah Nina.. tak payah nak berlakon dengan aku.. dari sikap kau aku dah tahu! Baik.. aku tunaikan permintaan kau. Kita putus!” Nina bertambah sakit hati dengan tuduhan Mirhan yang langsung tidak masuk akal itu.

“Kau cakap lah apa saja Mirhan! Cakaplah.. Aku dah bosan dengan perangai kau yang suka memfitnah orang! Tak kira lah kau nak kata aku berlakon ke.. aku ni memang dah ada jantan lain ke.. aku je yang tahu alasan aku nak putus dengan kau! Kita memang tak serasi.. kita memang dah tak boleh teruskan hubungan ni. Kita dah sampai jalan mati. Dah buntu Mirhan.. selamat tinggal!” Nina melangkah laju meninggalkan Mirhan. Matanya basah dan hatinya memang teramat sakit.

“Kau! Nina.. hish!!” Mirhan menyepak tiang perhentian bas untuk melepaskan amarahnya. Mujurlah tidak ada sesiapa di situ ketika itu. Jadi lagak pertengkaran dan perpisahan mereka berakhir begitu saja.
********
Kisah itu sudah 5 tahun berlalu. Pelbagai peristiwa pahit manis terjadi dalam hidupnya. Kematian kedua ibu bapanya yang tragis banyak mengalirkan airmatanya. Nina menjadi lebih tabah setelah mengharungi dugaan. Selepas Mirhan, Nina ada bercinta dengan beberapa jejaka lain tetapi selalu saja kecewa. Bermacam-macam jenis lelaki yang pernah di temuinya. Ada yang kedekut. Ada yang gatal dan suka meraba serta mengambil kesempatan. Ada pula yang asyik pinjam duit, yang Casanova, yang pengotor, yang kebudak-budakan dan berbagai jenis lagi. Nina pernah juga tersangkut dengan lelaki gay sangat kacak, tapi sebenarnya berpura-pura bercinta dengan Nina hanya untuk menyembunyikan sikap asalnya yang gay. Berjumpa dengan pelbagai lelaki menyebabkan Nina mula memahami serba sedikit sikap lelaki di sekelilingnya. Nina mula tahu apakah yang lelaki suka tentang perempuan dan ciri-ciri gadis yang menjadi pilihan lelaki.Tapi malangnya Nina tidak berjaya menemui cinta sejatinya. Cinta yang telah hilang memang sukar untuk dicari gantinya. Tidak ada lelaki yang benar-benar menepati citarasa dan keserasiannya. Mungkin juga mereka semua bukanlah jodohnya.

Nina mula terkenang Mirhan. Mungkin dulu Mirhan panas baran orangnya dan Nina tidak pandai menghadapi sikap Mirhan malah berkeras pula untuk menang dengan sikap sendiri. Mereka tidak pernah cuba bertolak ansur. Mereka tidak pernah cuba memberi dan menerima. Mereka tidak cuba berkongsi perasaan. Tiada perbincangan dan mereka tidak pernah cuba untuk meminta maaf atau memaafi. Nina menghela nafas berat. Sudah 5 tahun mereka tidak pernah bertemu. Mirhan sudah tentu bertemu penganti. Mungkin Mirhan sudah menemui cinta sejatinya. Entah di manakah lelaki itu sekarang. Sebenarnya Nina tahu Mirhan seorang lelaki yang baik. Mirhan bukan kaki perempuan dan juga setia orangnya. Nina tahu itu. Tapi Mirhan yang pada mulanya prihatin dan romantis berubah menjadi kurang prihatin serta kurang romantis menyebabkan Nina merasa tidak puas hati. Nina menyalahkan sikap Mirhan yang berubah itu. Nina sedar.. sikap Mirhan yang mulanya terlalu banyak memberi dan Nina pula terlalu banyak menerima. Menjadikan hubungan mereka tidak seimbang dan cinta mereka menjadi begitu rapuh!

“ Nina…Pembeli rumah dah datang!” Nina tersentak. Lamunannya melayang. Khalid menolongnya mencarikan pembeli untuk rumah pusaka ibunya yang ingin dijualkannya, Khalid datang dengan seseorang. Nina tertegun. Mimpikah ini? Mirhan!

“Nina?” Mirhan menatapnya. Juga tergaman.

“Mirhan? Kau pembeli?” Tanya Nina masih terkejut. Mirhan menganguk.

“Oh dah kenal?”Sampuk khalid. Nina mengiakannya. Baru saja dia melamunkan lelaki itu. Panjang umur pun!

“Kalau begitu mudahlah.. aku ada hal ni.. korang atur sendiri lah ye” Khalid berlalu.

“Kau nak jual rumah ni?” Tanya Mirhan. Nina menganguk.

“Rumah ni takde siapa yang tinggal. Aku kan anak tunggal. Mereka dah takde. Bukannya aku tak sayang rumah ni, tapi banyak kenangan yang memedihkan dalam rumah ni.Aku nak jual rumah ni dan beli rumah lain yang dekat sikit dengan Bandar. Senang aku pergi kerja. Tak payah sewa, kalau aku nak dok sini sesorang pun sunyi..” Mirhan menganguk-angguk. Nina segera membawa Mirhan melihat-lihat rumah itu.

“Kau apa khabar? Kau dah kawin?” Tanya Mirhan. Nina hanya tersenyum.

“Kenapa tanya pasal kawin pula? Jangan bimbanglah.. Aku taklah frust sangat lepas putus cinta dengan kau” gurau Nina enggan menyatakan statusnya. Dia malu sebenarnya. Sudah berkali-kali bercinta tapi semuanya tidak menjadi. Mungkin memang dia yang tidak pandai memahami lelaki sebab itu masih lagi belum bertemu jodoh. Itulah fikiran Nina.

“Eh.. ke situ pula kau ni. Taklah! Saja tanya. Sudah 5 tahun kan? Aku terkejut nampak kau tadi! Tak sangka aku terjumpa pula kekasih lama…” Gurau Mirhan sambil ketawa kecil. Nina turut ketawa. Walau pun mereka tidak berpisah secara baik dulu, tak sangka mereka kini masih boleh berbual dengan baik.

“Kau pula? Kau beli rumah ni untuk isteri ke?”Tanya Nina menduga. Mirhan tersenyum.

“Tak.. bukan untuk isteri. Tapi bakal isteri..” Jawab Mirhan sambil menatap terus ke mata Nina seolah-olah ingin melihat riaksi Nina.

“Oh…. Begitu! Tahniah.. tak lama lagi bergelar suami. Kawin juga kau akhirnya! Siapalah gadis bertuah tu ye!” Kata Nina bersahaja meski pun jauh di lubuk hatinya merasa cemburu. Dia cemburu kerana Mirhan telah menemui cinta sejatinya sedangkan dia masih lagi sendiri. Mendengar kata Nina, Mirhan hanya tersenyum.

“Macam mana? Berminat dengan rumah ni? Harga masih boleh runding..” ujar Nina setelah mereka puas meronda seluruh pelusuk rumah dan halaman.

“ Baik.. aku nak beli. Kalau loan aku approved aku akan bayar deposit.Tapi Nina.. aku masih nak tanya. Kau…dah kawin ke? Aku iklas nak tahu ni. Walau pun semua tu kisah lama, tapi sepanjang 5 tahun ni aku selalu terfikir. Kat manalah kau sekarang? Bahagia tak kau sekarang.. aku benar-benar teringin nak tahu khabar kau!” Kali ini Mirhan bertanya serius. Nina menarik nafas panjang. Dia ketawa kecil.

“Mirhan.. baiklah! Biar aku berterus terang dengan kau. Sebenarnya dalam tempoh 5 tahun ni aku dah banyak kali tukar teman lelaki. Tak satu pun menjadi. Mungkin aku terlalu demand kut. Mungkin juga pasal sikap aku ni memang tak boleh di terima oleh orang lelaki. Mujurlah kau tinggalkan aku awal-awal. Kalau tidak tentu kau merana kerana sikap aku..” Kata Nina sambil tertawa lagi. Biarlah dia merendah diri kini. Itu adalah kenyataannya. Walau pun agak malu tapi Nina tidak lagi merasa perlu untuk merasiakannya.

“Ai.. siapa yang tinggalkan siapa? Kau yang tinggalkan aku.. kau yang minta putus, tak ingat? Tapi aku tak ambil hati Nina. Sebab, lepas kau tinggalkan aku, barulah aku tahu.. memang sikap aku agak melampau juga. Tapi yelah.. masa tu kita muda lagi. Aku pun darah muda, panas baran. Tak fikir apa nak cakap, main lepas saja.. tulah! Cinta monyet katakan.. ha ha ha..” Mendengar tawa Mirhan, Nina hanya mampu tersenyum kelat.

“Yelah.. aku tahu. Aku nak minta maaflah pasal yang dulu-dulu tu. tak kiralah siapa yang salah. Kita masih terlalu muda. Tak matang.Tapi.. syukurlah kau jumpa juga cinta sejati kau! Nanti kalau kau melangsungkan majlis tu jangan lupa pula jemput aku. Tak payahlah kau bagitau bakal isteri kau yang aku ni kekasih lama. Tak pasal-pasal jadi gaduh pula nanti.. dah cukup-cukuplah kita bergaduh dulu kan?” Mirhan jadi ketawa mendengar kata-kata Nina. Kenangan itu memang lucu bila di kenang semula. Mereka terlalu muda, ego dan mentah. Kerana Ego mereka saling sakit menyakit dan luka melukai. Memang tidak bermakna.

“Aku pun hairanlah.. kenapa kita tak sudah-sudah nak bertekak. Bila ingat-ingat balik, aku rasa kita lah pasangan paling suka bertengkar. Tiap kali jumpa mesti nak gaduh. Dah jadi habit kita pula kan?” Tambah Mirhan. Nina juga merasa lucu dan mentertawakan kisah silam itu.

“Nina.. Kau masih sudi jadi kawan aku?”Tiba-tiba Mirhan bertanya.

“Kenapa tiba-tiba tanya macam tu? Kawan dengan kau? Aku nak juga kawan dengan kau. Tapi nanti.. luka lama berdarah semula siapa nak jawab? Kau tu takpelah dah ada buah hati.. takan nak berdarah kembali. Aku ni yang dok sesorang ni.. nanti teringat-ingat kisah cintan-cintun dulu-dulu, tak pasal-pasal datang balik cinta yang hilang tu! tak ke parah dibuatnya… kalau kau nak carikan jodoh untuk aku boleh le aku pertimbangkan.” Kata Nina sambil separuh berjenaka. Mirhan tidak menyambut tawa Nina. Sebaliknya merenung ke mata Nina dengan serius.

“Kenapa?”tanya Nina hairan.

“Kita mulakan semula.. Nina! Kita kembalikan cinta yang hilang tu..” Kata-kata Mirhan itu amat mengejutkan Nina. Gila ke?

“Kau nak gaduh ke ni, Mirhan? Bakal isteri kau tu kau nak letak mana? Ingatkan kau dah ada buah hati ni dah matang lah… tapi rupanya dah sewel pula jadinya” Mirhan ketawa mendengar kata-kata Nina.

“Kau memang tak banyak sangat berubah Nina. Mulut masih lazer macam dulu.. tapi takpe. Aku dah faham perangai kau.. Nina. Sebenarnya selama 5 tahun, lepas kita putus aku pun macam kau juga. Berkali-kali putus cinta. Semuanya tak menjadi. Entahlah.. mungkin aku ni tak cukup hensem, mungkin juga tak cukup caring, atau tak berharta.. aku dah bosan putus cinta. Lagi pun gadis-gadis suka lelaki yang berkerjaya, ada kerja tetap.. ada kereta, rumah… So aku kira nak beli rumah ni untuk masa depan. Nak kawin anak dara orang kenalah sediakan rumah untuk dia tinggal, aku belajar itu lepas beberapa kali, kena tinggal buah hati sebab dirampas oleh lelaki lain yang lebih berkemampuan. Diam-diam dalam 5 tahun ni aku selalu teringat kat kau dan aku selalu berharap dapat jumpa kau balik tak kiralah kau sudah berkawin atau pun belum.. Aku kata tadi nak beli rumah ni untuk ‘bakal isteri’. Tapi ‘bakal isteri’ tu memang belum ditemui calonnya.. Bila kau cakap kau masih sendirian.. luka lama mungkin berdarah kembali.. aku fikir.. kau sudi tak kalau kita mulakan semula?” Nina terdiam. Jadi Mirhan juga sepertinya? Masih sendiri. Masih mencari.

“Kau tak takut ke luka lama berdarah semula? Kalau kita bersama semula.. entah-entah kita akan asyik bergaduh macam dulu-dulu lagi?”Tanya Nina sambil tersenyum. Mirhan tergelak.

“Dulu aku Ego. Kau juga sama.. Semasa kau putuskan hubungan aku teringin sangat nak pujuk kau supaya jangan putuskan hubungan. Aku teringin sangat nak bagitau kau yang aku masih sayangkan kau. Tapi aku biarkan kau pergi. Banyak yang aku kesalkan selepas kita berpisah. Aku pendamkan saja semuanya. Bila dapat tahu dari kak Farhana yang kau dah ada buah hati baru, aku sakit hati. Tapi aku tahu, Aku tak pernah cuba nak fahami kau. Aku selalu ikut nafsu marahku bila kita bertengkar dan aku sikit pun tak mahu mengalah.. Jadi Nina. Kalau kita masih boleh mulakan semula.. aku ingin kau tahu. Aku rindu pada cinta kita dulu. Sebenarnya ada banyak manisnya, cuma aku saja yang tidak menghargai..” Mata Nina berair. Dia terharu. Seakan-akan telah menemui kembali sinar cintanya yang telah hilang itu. Biarpun ia masih samar-samar.

“Nina…kau menangis?” tanya Mirhan sambil menyentuh bahu Nina.

“Tidak.. aku gembira Mirhan. Mungkin ini peluang kedua untuk menebus apa yang telah kita hilangkan…” Mirhan mengganguk. Tangan Nina digengam erat seolah-olah menyakinkan yang kali ini cinta mereka akan membuahkan hasil.

Sekiranya masih ada sisa cinta dalam hati, mungkin ia masih boleh mekar kembali. Mungkin cinta itu umpama sebiji buah mentah dan perlukan satu jangka masa untuk ranum dan dipetik untuk dinikmati kemanisannya. Mungkin juga cinta itu satu pertaruhan yang menjanjikan bahagia atau sebaliknya. Apa pun persepsi untuk kalimat cinta itu, tapi setiap orang tentu ada kisah cintanya. Dan bila cinta itu datang, hargailah ia.


Kondisi Bung Karno selama berada dalam tahanan Orde Baru?

Februari 1, 2008

PENASARAN ingin mengetahui Kondisi Bung Karno selama berada dalam tahanan Orde Baru? Bagaimana keadaan Bung Karno menjelang ajal menjemput nyawa? Untuk menjawab rasa penasaran banyak orang itu, Rachmawati Soekarnoputri membongkar sejumlah dokumen tentang kesehatan Bung Karno, siang ini (11 Mei 2006) di kantor Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS), di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.

Dokumen-dokumen berusia 36 tahun itu menggambarkan kondisi kesehatan Bung Karno, terutama setelah dia tidak lagi menjadi presiden. Juga menggambarkan perlakuan penguasa ketika itu terhadap Bung Karno.

 

Memasuki pertengahan Agustus 1965 kesehatan Bung Karno drop drastis. Pada 4 Agustus ia terjatuh dan collapse di kamarnya di Istana Merdeka, Jakarta. Sejumlah kabar menyebutkan, Bung Karno terjatuh karena serangan stroke. Dia sempat dibawa ke Istana Bogor untuk mendapat perawatan intensif.

Peristiwa Bung Karno collapse sempat melahirkan berbagai rumor yang sulit dikonfirmasi. Sempat pula berkembang spekulasi yang mengatakan bahwa Bung Karno tidak akan mampu menyampaikan pidato kenegaraan pada peringatan hari proklamasi 17 Agustus 1965.

Kesehatan Bung Karno yang memburuk ini pula yang ikut memperpanas konstelasi politik nasional saat itu. Suhu politik dan persaingan antara Partai Komunis Indonesia (PKI) yang sebelumnya sempat mengusulkan ide angkatan kelima dengan TNI Angkatan Darat semakin panas.

Kehadiran tim dokter dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang membantu pengobatan Bung Karno juga mempertajam konflik di antara PKI dan AD. Sebab RRT dianggap sebagai sponsor utama ide angkatan kelima yang bikin resah itu. Di tengah suhu politik yang semakin panas, Bung Karno kembali muncul pada peringatan detik-detik proklamasi ke-20 di Istana Merdeka. Dia hadir lengkap dengan pakaian kebesaran dan tongkat komando yang seakan tak pernah lepas dari genggaman.

Singkat cerita, Maret 1967 Soeharto dilantik sebagai pejabat presiden. Sejak itu Bung Karno dikucilkan dan dilarang menginjakkan kaki di Jakarta. Maret 1968, Soeharto dilantik sebagai presiden. Menyusul pelantikan itu, di awal April 1968, Bung Karno angkat kaki meninggalkan Istana Bogor.

Dari istana yang berseberangan dengan Kebun Raya Bogor, Bung Karno pindah ke Batu Tulis. Tetapi udara Bogor yang dingin kala itu amat mengganggu kesehatannya yang tak kunjung membaik. Rematik Bung Karno semakin parah dan menyerangnya bertubi-tubi setiap hari. Di saat sakit yang semakin tak tertahankan, Bung Karno mengutus Rachma ke Jakarta, menyampaikan surat permohonan kepada Soeharto agar dia diperbolehkan kembali ke Jakarta.

Beberapa bulan kemudian, Bung Karno kembali menginjakkan kaki di Jakarta, tepatnya di Wisma Yasso, Jalan Jenderal Gatot Subroto. Di Wisma Yasso, rumah Dewi Soekarno yang kini menjadi Museum Satria Mandala itu, Bung Karno dijaga ekstra ketat siang dan malam.

“Ada satu periode dimana kami, anak-anaknya, tak boleh bertemu dengan beliau. Begitu juga dengan kerabat keluarga yang lain. Tetapi ada satu periode dimana saya bisa menjenguk Bapak tiga hingga empat kali dalam seminggu,” kenang Rachma.

Tanggal 6 Juni 1970, bertepatan dengan hari ulang tahun Bung Karno yang ke-69, Rachma dan Guruh menjenguk Bung Karno di Wisma Yasso. Rachma masih ingat, saat itu Bung Karno tengah berbaring di sofa. Sekujur tubuhnya bengkak. Suaranya sudah tak jelas lagi. Begitu juga dengan pandangan matanya.

Sakit ginjal yang diderita Bapak tak pernah diobati secara layak, ujar Rachma lagi. Dalam kunjungan itu, Rachma memotret Bung Karno. Foto itu kemudian diberikan Rachma kepada seorang jurnalis kenalannya. Urusan memotret ini membuat Rachma berurusan dengan Corps Polisi Militer (CPM).

“Mengapa saya tak boleh memotret BK. Memang status BK apa?” tanya Rachma ketika diinterogasi.

Dengan ringan si pejabat CPM menjawab, Bung Karno adalah tahanan. Setelah bertahun-tahun, itu adalah pengakuan pertama dari mulut mereka, ujar Rachma. Beberapa hari setelah kunjungan Rachma itu, Bung Karno dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Kesehatannya semakin memburuk.

Tanggal 21 Juni 1970, sekitar pukul 04.30 WIB, pihak RSPAD menghubungi Rachma. Dia diminta segera ke RSPAD menemui Bung Karno. Sekitar pukul 07.00 WIB, Rachma dan saudara-saudaranya dipersilakan memasuki ruang rawat Bung Karno. Alat bantu pernafasan dan jarum infus telah dilepas. Bung Karno tergolek lemah. Matanya tertutup rapat, nafasnya satu-satu. Tak lama, malaikat maut menjemput sang proklamator itu.

(Dimuat pertama kali di Rakyat Merdeka, 12 Mei 2006 dengan judul “Sebelum Jarum Infus Bung Karno Dilepas”. Foto diambil di kediaman Rachmawati, sehari sebelum dokumen-dokumen tersebut dibuka untuk publik.)